June 6th, 2011 (2:00 PM)
larut sudah malam ini. jubah hitam telah memeluk bumi yogyaku saat ini. dan banyak hal dalam benakku yang meminang diri ini untuk ditulis. tema malam ini entahlah, tentang ikhlas mungkin. simpel sebenarny, ikhlas. tapi melakukanny? butuh tangisan, marah, egoisme, dan semuanya harus diagungkan untuk tidak membiarkan diri ini dinaungi rasa "ikhlas".
menahun aku bermasalah dengan hal ini. dalam tulisan, begitu mudahnya aku mengemukakan semua hal tentang ikhlas.tapi menjalaninya? ampun-ampunan.. egois ini begitu diagungkan untuk setiap masalah. aku begitu terlihat "manusia" ketika diminta ikhlas oleh hatiku sendiri.
ketika kau tahu kau begitu marah akan satu hal, pikiran buruk, perasaan yang sakit, ego yang memuncak, seprtinya memang terlihat sangat "manusia" ya? dan setelah pori-pori ini menyentuh wudhu, dan merendah serendah-rendahnya padaNya, dan semua terlihat lebih waras ketika aku menjalaniny.
ketika Allah meminta ayahku untuk kembali. ikhlas? rabb, begitu berat rasanya. jauh dari kata ikhlas. rela, tapi belum ikhlas sepenuhnya. melihat orang disekitarku yang benar-benar merasa ditinggalkan olehnya. melihat adikku yang hanya sempat 7 tahun 1 bulan 24 hari bersama dengan dirinya, dan melihat ibuku menopang bahtera ini seorang diri. god, it's too fast.. berhari-hari nalar ini bermain, sampai pada satu saat dengan gampangnya otak ini memantik, andaikan Allah bicara padamu ahdha, "lalu kapan saatnya kau ikhlas kehilangan ayahmu?" ya. pertanyaan simpel sebenernya. banyak hal yang memintamu untuk lebih bijak dikemudian hari. thanks god.
ketika mulut ini penuh dengan nama penduduk kebun binatang untuk setiap masalah yang selalu datang, sepertinya "mati" begitu cepat terlintas untuk memancing menjadi salah satu jalan keluar. "manusia" banget ya! jadi inget slah satu deskripsi sebuah "masalah" dari salah seorang dosen yang didapatkannya dari seorang teman. kira" sperti ini, "masalah itu kya batu bata, kalo kamu pinter, ya batu bata itu kamu tangkep, terus disusun, semakin banyak kamu dapet batu bata, semakin mungkin kamu menyusun sebuah tembok untuk melindungimu dari lemparan batu bata" simpel ya. bermakna, seakan-akan begitu ikhlas menerima masalah, terus diolah biar jadi keuntungan..
dan ketika cinta mendatangimu dan meninggalkan sebuah perkara.. hm.. ayolah, bangun-bangun. wake up!! kau yang memiliki hatimu sendiri, kau harus berjuang untuk dirimu sendiri, dan kau penentu hidupmu sendiri. lalu air matamu harus ditentukan oleh orang lain? itu menyedihkan. jangan siksa hati dan dirimu untuk tidak merdeka dengan hidupnya sendiri. biarkan kau yang menentukan perasaan dan snyuman yang tergores. hal-hal seperti itu tidak akan berpengaruh besar ketika kau begitu kokoh untuk angin yang meniup. apa tidak ada keinginan untuk mengubah tiupan angin itu menjadi sebuah elusan halus dihatimu?
begitu banyak cara untuk tersenyum, membuat dunia ini menjadi lebih indah. membuatnya menjadi lebih halus dan peka akan setiap kejadian, dan menjadi "manusia yang ikhlas". wajahmu terlihat jauh lebih manis dengan senyum yang terlukis. dan dunia menjadi pantulan senyum indahmu. tersenyumlah, dan dunia akan tersenyum bersamamu. peluk erat mereka, pertahankan, dan melangkah bersamanya.
berawal dari sebuah titik. dan bentuklah apapun yang kau inginkan. :)